Siapa yang menyangka bahwa di antara ratusan prajurit Muslim pada hari Badar, ada seorang lelaki yang usianya telah melewati masa mudanya, namun justru berdiri paling tegak mengangkat pedang? Dialah Ubaidah bin al-Harits, lelaki tua yang darahnya kelak menjadi saksi kemenangan pertama Islam.
Di padang Badar, dua pasukan telah berhadapan. Tiga ratus tiga belas Muslim menghadapi seribu pasukan Quraisy. Inilah pertemuan pertama antara cahaya dan kegelapan, antara iman dan kesombongan. Sebelum panah dilepaskan dan sebelum pedang dilayangkan, tradisi perang Arab menuntut satu hal : duel pembuka. Tiga melawan tiga, penentuan kehormatan sebuah pasukan.
Tiga ksatria Quraisy muncul ke tengah gelanggang : Utbah bin Rabi’ah, Syaibah, dan al-Walid. Mereka menantang lantang, menunggu siapa dari kaum Muslimin yang berani maju. Rasulullah ﷺ menatap para sahabat, lalu menunjuk tiga nama yang dekat dengan beliau : Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib, dan Ubaidah bin al-Harits.
Dengan langkah mantap, ketiganya maju. Hamzah – singa Allah. Ali-pemuda paling gagah. Dan Ubaidah-lelaki yang telah melewati usia 60 tahun, namun wajahnya tetap menyala oleh keberanian. Tak ada getaran takut dalam langkahnya; hanya ketegasan seorang mukmin yang telah mengurangi dunia dari hatinya.
Duel pun dimulai. Pedang-pedang beradu, suaranya memantul ke langit Badar. Hamzah menebas lawannya dengan cepat. Ali menjatuhkan al-Walid dengan tebasan yang bersih dan tegas. Namun di satu titik arena, pertarungan berbeda sedang berlangsung. Ubaidah dan Utbah saling serang dengan kekuatan yang sama, keberanian yang sama, dan usia yang hampir setara.
Dua orang tua, dua pendekar lama, bertempur seperti dua singa padang pasir. Debu berputar di sekitar mereka, langkah mereka mantap, dan pedang mereka bergerak dengan kehormatan yang menggetarkan. Hingga akhirnya, keduanya jatuh bersamaan sama-sama terluka parah.
Hamzah dan Ali segera berlari, mengangkat tubuh Ubaidah yang bersimbah darah. Mereka membawanya kembali ke dekat Rasulullah ﷺ, tempat lelaki tua itu bersandar dengan napas tersengal. Dalam suara yang hampir hilang, ia berkata:
“Wahai Rasulullah… jika hari ini aku syahid, maka aku adalah orang pertama yang berkorban untuk agamamu di medan Badar.”
Rasulullah ﷺ memeluknya. Air mata beliau menetes di wajah sahabatnya. Ubaidah menutup matanya, lalu dalam kehangatan pelukan nabi yang beliau cintai, ia menghembuskan napas terakhirnya.
Darahnya mengalir di tanah Badar, darah yang menjadi saksi keberanian pertama dalam sejarah Islam. Darah seorang lelaki tua… yang justru berdiri paling gagah di antara pasukan yang jauh lebih muda darinya.
Dan kemenangan besar yang diraih kaum Muslimin hari itu, dimulai oleh pengorbanan seorang mukmin yang telah menua, namun hatinya tak pernah padam dari cahaya keberanian.
Penulis : Ahmad Firdaus jurnalis wartalintasdesa.web.id


















