banner 728x250

Tak Hanya Ajarkan Baca Al-Qur’an, Menag: Guru Juga Harus Bentuk Karakter dan Rawat Moderasi Bangsa

banner 120x600
banner 468x60

Wartalintasdesa.web.id, Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar optimistis Indonesia dapat terbebas dari buta huruf Al-Qur’an dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Harapan itu disampaikannya saat mengukuhkan 10.000 guru ngaji yang akan terjun menjadi bagian dari gerakan pembelajaran Al-Qur’an di berbagai daerah.

“Keberadaan 10.000 guru Al-Qur’an menjadi salah satu kontribusi konkret masyarakat dalam membantu mengatasi persoalan buta huruf Al-Qur’an. Menurut data statistik, masih ada sekitar 60 persen warga umat Islam Indonesia yang belum mampu membaca Al-Qur’an. Kementerian Agama tidak bisa menyelesaikan sendiri urusan besar seperti ini. Di sinilah peran organisasi kemasyarakatan Islam,” ujar Menteri Agama dalam Pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah, di Jakarta, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Menteri Agama, kontribusi Wahdah Islamiyah melalui pengukuhan 10.000 guru Al-Qur’an dapat memperluas jangkauan pembelajaran Al-Qur’an di masyarakat.

“Kontributor yang paling konkret adalah Wahdah Islamiyah yang menyumbangkan 10.000 pembebas buta huruf Al-Qur’an di Indonesia,” katanya.

“Jika 10.000 guru Al-Qur’an masing-masing membimbing 10 orang hingga mampu membaca Al-Qur’an, maka kita akan memiliki ribuan kader baru. Setiap orang membutuhkan waktu paling lama tiga bulan untuk belajar membaca huruf Al-Qur’an. Saya yakin, Insya Allah, dalam tempo tiga tahun Indonesia akan terbebas dari buta huruf Al-Qur’an,” tambahnya.

Selain meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, Menteri Agama mengarahkan para guru agar menjalankan fungsi pendidikan secara lebih mendalam. “Guru Al-Qur’an tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga perlu membentuk karakter peserta didik. Semoga kita tidak hanya mengajarkan cara membaca Al-Qur’an, tetapi para guru ini juga mampu menyentuh dan membentuk batin murid-muridnya,” tutur Menteri Agama.

Menteri Agama juga mengajak para guru Al-Qur’an untuk ikut merawat Indonesia sebagai bangsa yang moderat. Menurutnya, nilai-nilai moderasi dan agama dapat berjalan beriringan dalam kehidupan berbangsa.

“Mari kita rawat Indonesia sebagai bangsa yang moderat. Jangan pertentangkan moderasi dengan kekuatan syariah dan nilai-nilai keagamaan kita. Jangan dipertentangkan antara negara religi dan negara moderat. Indonesia menggabungkan keduanya,” katanya. (Hn/Red) 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *