banner 728x250

Bendungan Badudun Longsor, Program Desa Wisata KKM Kelompok 6 STISIP Banten Raya Terkendala

Bendungan Badudun yang berlokasi di Desa Banyubiru, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, mengalami longsor pada Kamis (15/1/2025).
Bendungan Badudun yang berlokasi di Desa Banyubiru, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, mengalami longsor pada Kamis (15/1/2025).
banner 120x600
banner 468x60

PANDEGLANG, Wartalintasdesa.web.id– Bendungan yang sebelumnya sempat viral dan dikunjungi Bupati Pandeglang karena dinilai memiliki potensi sebagai objek wisata baru tersebut kini mengalami kerusakan serius. Bendungan Badudun yang berlokasi di Desa Banyubiru, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, mengalami longsor pada Kamis (15/1/2025).

Berdasarkan keterangan warga, longsor pertama terjadi di bagian hulu bendungan sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Selanjutnya, longsor kedua kembali terjadi sekitar pukul 10.00 WIB dengan tingkat kerusakan yang lebih parah. Peristiwa ini terjadi di tengah tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah Desa Banyubiru.

Achmad Hinayatunur, Kepala Desa Banyubiru menyampaikan bahwa kondisi Bendungan Badudun sebenarnya telah lama berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Bahkan saat kunjungan Bupati Pandeglang ke lokasi beberapa waktu lalu, telah terlihat adanya retakan di sejumlah titik struktur bendungan.

“Waktu Bupati berkunjung, kondisi bendungan sebenarnya sudah mengkhawatirkan. Sudah ada retakan di beberapa titik dan hal itu sudah kami sampaikan, namun sampai hari ini belum ada tindak lanjut perbaikan,” ujar Kepala Desa Banyubiru.

Ia juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Desa Banyubiru sejak tahun 2019 telah berulang kali mengajukan permohonan revitalisasi dan pemeliharaan bendungan kepada Pemerintah Kabupaten Pandeglang, Pemerintah Provinsi Banten, hingga kementerian terkait. Namun hingga terjadinya longsor, belum ada respons atau realisasi perbaikan.

Sahrul Muhtarom, Ketua Kelompok 06 KKM STISIP Banten Raya Desa Banyubiru menyampaikan bahwa bendungan Badudun memiliki peran vital bagi masyarakat karena mengairi lebih dari 400 hektare lahan persawahan di empat desa, yakni Desa Banyubiru, Desa Caringin, Desa Banyumekar, dan Desa Teluk. Lahan pertanian tersebut menjadi sumber penghidupan utama ribuan warga di wilayah tersebut.

“Longsornya bendungan dikhawatirkan akan mengganggu sistem irigasi antardesa dan berdampak langsung pada produktivitas pertanian, terutama pada musim tanam yang sedang berjalan.

Selain berdampak pada sektor pertanian, kejadian longsor ini juga menghambat kegiatan mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) STISIP Banten Raya yang saat ini sedang melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Banyubiru,” ucapnya.

Sahrul Muhtarom, mengatakan bahwa mahasiswa KKM tengah menjalankan program dengan tema “Optimalisasi Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif Melalui Media Sosial”. Namun kondisi Bendungan Badudun pasca-longsor membuat sejumlah program tidak dapat berjalan optimal.

“Kami sedang menjalankan KKM dengan fokus pengembangan desa wisata dan ekonomi kreatif melalui media sosial, pelatihan, hingga penyusunan policy brief. Namun setelah longsor yang terjadi hari ini, beberapa agenda terpaksa ditunda karena faktor keselamatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Bendungan Badudun sebelumnya masuk dalam rencana promosi desa wisata karena daya tarik alam dan fungsinya bagi masyarakat. Namun dengan kondisi kerusakan saat ini, aspek keselamatan menjadi prioritas utama.

“Mahasiswa KKM STISIP Banten Raya bersama Pemerintah Desa Banyubiru berharap agar pemerintah kabupaten, provinsi, hingga Kementerian terkait segera melakukan penanganan darurat dan perbaikan menyeluruh. Penanganan cepat dinilai penting agar dampak longsor tidak berlarut-larut, tidak meluas ke wilayah desa lain, serta tidak menghambat upaya pengembangan desa wisata dan ekonomi kreatif di wilayah tersebut,” pungkasnya. (MIR)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *