LEBAK – Tujuan utama koki atau kepala masak di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) adalah memimpin operasional dapur dalam memproduksi dan mendistribusikan makanan bergizi gratis (MBG) yang sehat, aman, lezat, dan sesuai dengan standar gizi yang ditetapkan untuk anak sekolah, ibu hamil, dan menyusui.
Peran koki di dapur SPPG juga untuk memastikan Standar Gizi dan Keamanan, bertanggung jawab memahami dan menerapkan Hazard Analytic Critical Control Point (HACCP), termasuk mengelola holding time (waktu penyimpanan), waktu memasak, dan suhu distribusi agar makanan aman, matang sempurna, serta bebas dari bahaya. Mengubah bahan baku makanan menjadi hidangan yang lezat, sehat, dan berkualitas tinggi agar disukai oleh penerima manfaat, juga menjadi tugas koki sehingga gizi yang dibutuhkan terpenuhi.
Koki juga harus mampu memimpin tim masak (relawan/pegawai) dalam persiapan bahan hingga distribusi makanan secara tepat waktu dan sesuai SOP, terutama dalam melayani ribuan porsi per hari. Termasuk menjamin bahwa makanan yang diproduksi setiap hari memiliki standar gizi yang sama meskipun menunya berganti-ganti, guna menghindari kebosanan dan memastikan gizi seimbang. Sehingga peran koki SPPG harus bisa mendukung program nasional untuk menjadi ujung tombak dalam pemenuhan gizi generasi penerus bangsa, untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah. Secara ringkas, koki SPPG tidak hanya memasak, tetapi memastikan makanan yang disajikan adalah “Makanan Sehat dan Bergizi” yang menjadi fondasi kesehatan tubuh.
Sementara koki di SPPG Cicaringin Kecamatan Gunungkencana diduga tidak miliki sertifikat, hal ini patut dipertanyakan status kelayakan syarat administratif dan teknis operasi runningnya SPPG tersebut. SPPG Cicaringin juga saat pengajuan syarat bisa running untuk koki diduga pakai nama koki yang sudah di berhentikan sebelumnya, dan pemberhentiannya diduga secara sepihak alhasil sudah hampir mau satu bulan di SPPG Cicaringin running dan beroperasi tidak memiliki koki yang bersertifikat.
Firman Maulana Agustian S.H, Koordinator SPPG Kecamatan Gunungkencana saat di konfirmasi tentang hal diatas mengatakan, SPPG memiliki koki yang sudah bersertifikat itu memang wajib dan sebetulnya saat mau running pun Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) harus lengkap.
“Secepatnya akan saya tanyakan status koki di SPPG Cicaringin apakah sudah memiliki sertifikat atau belum, karena saat ini dari running awal sudah hampir tiga mingguan,”tegasnya. Kamis (12/2/2026)
Diketahui sanksi bagi SPPG sebelum syarat lengkap sudah running dan beroperasi, Badan Gizi Nasional (BGN) menerapkan kebijakan ketat yakni bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebelum seluruh syarat administratif dan teknis, terutama Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), dipenuhi berdasarkan situasi keamanan pangan Makan Bergizi Gratis (MBG), akan di sanksi Suspend (Penangguhan Operasional Sementara).
Badan Gizi Nasional (BGN) juga, Mengatur untuk seluruh dapur Satuan Pelayanan Makan Bergizi Gratis (SPPG/MBG) wajib memiliki koki atau juru masak bersertifikat. Koki bersertifikat diperlukan untuk menjamin keamanan pangan, mencegah keracunan, dan memastikan standar gizi. Adapun dapur yang tidak memenuhi standar ini dapat disanksi atau ditutup.
Sebelumnya diberitakan SPPG Cicaringin diduga tidak memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) termasuk keberadaan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) tidak lengkap alias tidak memenuhi syarat serta Koki tidak bersertifikat.
Kepala SPPI yang di dampingi Asisten Lapangan Cicaringin saat di konfirmasi mengatakan, IPAL lagi proses mungkin minggu ini dibereskan dan diperbaiki, Memang dari awal juga sudah dibicarakan dengan mitra agar segera diperbaiki.
Disinggung terkait SLHS Kepala SPPI mengungkapkan, membuat SLHS juga kan harus ada sertifikat Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) jadi mengingat IPAL nya belum beres, masih harus diperbaiki dan dikerjakan SLHS belum memiliki akhirnya, adapun untuk koki tinggal nunggu sertifikat saja dan sudah di setujui oleh BGN kemarin.
“Saya juga tau aturan tersebut, kalau belum lengkap persyaratann belum bisa running dan hal itu sudah saya sampaikan ke mitra,”jelasnya.(Hd)


















