banner 728x250
Berita  

Masyarakat Mengeluh Atas Kenaikan Harga Sembako di Bulan Ramadhan

banner 120x600
banner 468x60

Banten-, Menjelang Hari Raya Idul Fitri Menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat di berbagai daerah, khususnya di Provinsi Banten, Kabupaten Pandeglang, mengeluh atas kenaikan harga sembako yang kerap terjadi selama bulan Ramadhan.

Lonjakan harga ini mencakup kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, daging, gula, cabai, dan bawang yang sangat dibutuhkan untuk mempersiapkan hidangan khas Lebaran. Kenaikan ini dirasakan cukup signifikan, sehingga memberatkan beban ekonomi masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Banyak keluarga yang terpaksa mengatur ulang anggaran belanja demi memenuhi kebutuhan pokok sekaligus mempersiapkan perayaan Idul Fitri dengan layak.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional per 20 Maret 2025, harga sejumlah bahan pokok di wilayah Banten mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Harga bawang merah naik sebesar 3,28% menjadi Rp45.700 per kilogram dibandingkan bulan sebelumnya. Cabai rawit merah mengalami kenaikan sebesar 1,6% menjadi Rp88.750 per kilogram, sementara daging sapi kualitas 1 naik sebesar 0,18% menjadi Rp139.900 per kilogram. Lonjakan harga ini semakin menambah beban masyarakat yang sudah berjuang menghadapi kondisi ekonomi yang menantang.

Fenomena kenaikan harga sembako menjelang Lebaran bukanlah hal baru. Setiap tahun, peningkatan permintaan selama Ramadhan kerap menjadi alasan utama melonjaknya harga bahan pokok di pasar. Para pedagang beralasan bahwa kenaikan ini dipicu oleh tingginya permintaan, keterbatasan pasokan, serta biaya distribusi yang meningkat. Dampak langsung dari kenaikan harga ini sangat dirasakan oleh rumah tangga masyarakat. Banyak keluarga terpaksa merinci pengeluaran harian mereka untuk mengakomodasi kenaikan harga, sementara sebagian lainnya harus mencari alternatif bahan makanan yang lebih terjangkau.

Untuk mengatasi kenaikan harga pangan dalam jangka panjang, pemerintah perlu merancang strategi yang komprehensif dan berkelanjutan.

Beberapa strategi yang bisa diterapkan meliputi:

Meningkatkan Produksi dan Produktivitas Pertanian:

Memperluas akses petani terhadap alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk mempercepat proses tanam dan panen serta memberikan pelatihan tentang teknik bertani modern, seperti penggunaan benih unggul, pupuk organik, dan metode irigasi yang efisien.

Memperbaiki Infrastruktur dan Rantai Distribusi

Mengurangi ketergantungan pada tengkulak dengan membentuk koperasi petani atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bertugas memasarkan hasil panen langsung ke konsumen atau pasar tradisional. Selain itu, pembangunan dan perbaikan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan sistem transportasi sangat penting untuk mendukung distribusi pangan dari sentra produksi ke pasar.

Memperkuat Cadangan Pangan Nasional

Meningkatkan cadangan beras, gula, minyak goreng, dan bahan pokok lainnya melalui lembaga seperti Bulog agar dapat digunakan untuk meredam lonjakan harga saat terjadi kelangkaan. Pemerintah juga perlu membuat kebijakan yang mengatur pelepasan cadangan pangan ke pasar secara terukur saat permintaan tinggi.

Mengurangi Ketergantungan Impor

Memperbaiki regulasi impor agar hanya dilakukan ketika stok pangan dalam negeri benar-benar tidak mencukupi, serta mendorong diversifikasi produksi pangan lokal agar tidak terlalu bergantung pada bahan pangan impor.

Dengan menerapkan strategi-strategi ini, diharapkan ketahanan pangan nasional dapat meningkat dan lonjakan harga bahan pokok yang kerap terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri dapat diminimalisasi. Peran aktif pemerintah, petani, serta pelaku pasar sangat penting untuk mewujudkan sistem pangan yang lebih stabil, adil, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat. (Hn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *