banner 728x250

Mengabdi di Garis Depan: Keteguhan Guru Agama di Perbatasan Kalimantan Utara

banner 120x600
banner 468x60

Tanjung Selor,wartalintasdesa.web.id – Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional 2026, tercatat kisah-kisah luar biasa dari pelosok Kalimantan Utara. Di tengah keterbatasan infrastruktur dan aksesibilitas, para guru agama tetap setia menjalankan tugas, menjadi pelita bagi generasi muda di wilayah perbatasan.

Di Krayan, Kabupaten Nunukan, Ronny telah mengabdikan diri selama 26 tahun sebagai guru agama Kristen. Medan yang berat dan keterisolasian wilayah bukanlah penghalang. Baginya, mengajar bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan.

“Di Hari Pendidikan Nasional ini, saya berharap anak-anak di perbatasan semakin mendapat perhatian yang sama. Mereka punya mimpi besar, hanya perlu didukung agar bisa berkembang,” ujar Ronny, Sabtu (2/5/2026).

Kisah serupa datang dari Sembakung. Halifah, guru Pendidikan Agama Islam, telah mengabdi selama 21 tahun. Menyusuri sungai hingga menghadapi risiko banjir menjadi pemandangan biasa. Namun, semangatnya tak pernah surut.

“Melihat anak-anak mulai mempraktikkan ibadah dengan benar dan menunjukkan akhlak yang baik adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan apa pun,” tutur Halifah.

Di Tanjung Selor, Puji Astuti, guru agama Buddha di SDN 001, juga telah mengabdi selama lebih dari dua dekade. Meskipun fasilitas relatif lebih baik, tantangan tetap ada, terutama terkait penyebaran siswa akibat penerapan sistem zonasi. Ia berharap pendidikan ke depan semakin inklusif.

“Semoga ke depan pendidikan semakin inklusif dan semua peserta didik mendapatkan layanan yang adil, tanpa terkecuali,” harap Puji.

Sementara itu, Anselmus Helaq dari Desa Sesua, Malinau Barat, membuktikan keterbatasan bukan halangan untuk berinovasi. Selama 21 tahun mengajar agama Katolik, ia terus berupaya agar nilai-nilai iman dapat dipahami dan diamalkan siswa.

“Saya berharap pendidikan kita terus maju dengan tetap menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual,” ungkap Anselmus.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara, Muh. Saleh, menilai para guru agama di wilayah perbatasan memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai luhur dan kerukunan bangsa.

“Pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga tentang karakter dan spiritualitas. Para guru di perbatasan telah menunjukkan dedikasi luar biasa. Mereka adalah penjaga nilai dan harapan bangsa,” ujar Saleh.

Ia menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk terus memberikan dukungan bagi para pengajar, khususnya di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), demi mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas. (Hn) 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *