Wartalintasdesa.web.id, Jakarta — Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia ternyata masih tertinggal dari Tiongkok dalam hal pengembangan hilirisasi sawit. Saat ini, jumlah produk turunan sawit yang mampu dikembangkan Tiongkok mencapai sekitar 1.000 jenis, sementara Indonesia baru sekitar 200 jenis.
“Kalau Indonesia baru mengembangkan 200 produk turunan sawit. Tetapi Tiongkok mampu mengembangkan 1.000 jenis produk. Walaupun produsen sawit terbesar, tetapi kita (Indonesia) sangat tertinggal,” ujar Timbas Prasad Ginting, Ketua GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Sumatera Utara, saat menjadi narasumber dalam Forum Diskusi Terbatas (FGD) bertema “Pemetaan Rantai Nilai, Hilirisasi, dan Arah Investasi Strategis Industri Kelapa Sawit Indonesia”.
FGD tersebut digagas oleh Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang berlangsung di BRIN Serpong, pada Kamis (3 September 2026).
Dalam pemaparannya, Timbas menyatakan hilirisasi sawit di Indonesia telah bertransformasi pesat dari sekadar penghasil minyak mentah (Crude Palm Oil/CPO) menjadi industri pengolahan bernilai tinggi. Terdapat tiga bidang utama hilirisasi yang telah berjalan: pertama, sektor pangan meliputi minyak goreng, margarin, dan shortening. Kedua, bidang non-pangan (oleokimia) antara lain sabun, kosmetik, bahan farmasi, hingga pelumas. Ketiga, bidang energi terbarukan mencakup pengembangan biodiesel, biogas, dan bioavtur.
“Di bidang energi, sudah pernah dilakukan uji coba bensin sawit dari Bandung ke Sabang. ITB sudah mampu menghasilkan bensin sawit,” ujar Timbas.
Selain itu, menurut Timbas, industri sawit diakui sebagai industri yang menerapkan prinsip zero waste atau bebas limbah. Seluruh hasil samping pengolahan seperti cangkang, serat, tandan kosong, dan limbah cair (POME) dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, pupuk, pelet biomassa, hingga bio-CNG.
Timbas Ginting menjelaskan bahwa GAPKI mendukung inisiatif BRIN sebagai lembaga riset pemerintah dalam pengembangan riset dan inovasi hilirisasi sawit, salah satunya melalui penyusunan rancangan besar riset sawit yang bersifat jangka panjang.
“Walaupun sudah ada program riset BPDP, tetapi sifatnya masih bersifat teoretis dan belum menyentuh hilirisasi secara mendalam. Itu sebabnya BRIN dapat bekerja sama dengan dunia industri agar hasil risetnya lebih aplikatif,” kata Timbas.
Menurutnya, BRIN perlu mengajak berdiskusi berbagai asosiasi yang berkaitan dengan produk turunan sawit seperti APROBI, GIMNI, dan APOLIN, mengingat GAPKI bergerak di sektor hulu perkebunan.
Berdasarkan data kinerja hingga Juni 2026, total produksi CPO dan PKO Indonesia mencapai 30,28 juta ton, meningkat 8,59% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat 27,89 juta ton.
Sektor konsumsi dalam negeri juga mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 5,48% secara tahunan (YoY) menjadi 12,94 juta ton. Peningkatan ini didorong oleh kebijakan mandatori biodiesel yang menyerap 6,57 juta ton CPO, diikuti kebutuhan pangan sebesar 5,29 juta ton, serta industri oleokimia sebesar 1,07 juta ton.
Di pasar internasional, ekspor produk olahan sawit (Processed Palm Oil) mendominasi dengan volume mencapai 11,76 juta ton hingga Juni 2026 — jauh melampaui ekspor CPO mentah yang tercatat sebesar 1,34 juta ton. Hal ini membuktikan bahwa program hilirisasi di dalam negeri berjalan efektif. Total nilai ekspor produk sawit Indonesia hingga pertengahan tahun 2026 mencapai USD 19,44 miliar atau setara sekitar Rp334,6 triliun. (Hn/Red)
















