Buanasenanews.com, Kuala Lumpur – Direktur UMJ Press Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Prof. Dr. Taufiqurokhman, S.H., A.Ks., S.Sos., M.Si., CPLA, bersama Ketua Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (APPTIMA), Dr. Muhammad Aripin, mewakili Indonesia dalam 35th International Publishers Congress (IPC) 2026. Acara tersebut berlangsung di Grand Hyatt Kuala Lumpur, Malaysia, pada 5 hingga 9 Juli 2026.
Kehadiran kedua tokoh ini merupakan bagian resmi dari delegasi Indonesia dalam forum penerbitan tingkat dunia yang diselenggarakan oleh Asosiasi Penerbit Internasional (International Publishers Association/IPA) bekerja sama dengan Asosiasi Penerbit Buku Malaysia (Malaysian Book Publishers Association/MABOPA).
Kongres tahun ini mengusung tema “Publishing Intelligence, Sustaining Forward” atau “Kecerdasan dalam Penerbitan, Melangkah Maju Secara Berkelanjutan”. Forum ini menjadi ajang pertemuan pemimpin asosiasi penerbit, akademisi, pelaku industri buku, perusahaan teknologi, dan organisasi internasional untuk membahas arah masa depan industri penerbitan di tengah gelombang transformasi digital.
Berbagai isu krusial menjadi fokus pembahasan, antara lain pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), perlindungan hak cipta, etika penerbitan, kebebasan berekspresi dan menerbitkan, keberlanjutan ekosistem industri buku, serta penguatan kerja sama lintas negara.
Peran Strategis Penerbit Perguruan Tinggi
Prof. Taufiqurokhman menyatakan bahwa kemajuan teknologi digital telah mengubah tatanan ekosistem penerbitan secara mendasar. Perguruan tinggi, menurutnya, kini tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian, melainkan memiliki tanggung jawab besar menghasilkan publikasi ilmiah yang berkualitas, berdaya saing global, dan mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
“Kongres ini menjadi ruang strategis bagi penerbit perguruan tinggi Indonesia untuk memperluas wawasan, membangun jejaring internasional, sekaligus mempelajari praktik terbaik pengelolaan penerbitan di era digital. Pemanfaatan kecerdasan buatan harus diimbangi dengan prinsip etika, perlindungan hak cipta, dan integritas akademik agar kualitas publikasi tetap terjaga,” ujar Prof. Taufiqurokhman di sela-sela acara, Senin (5/7).
Ia menambahkan, teknologi AI membuka peluang meningkatkan efisiensi proses editorial, penerjemahan, analisis data, hingga penyebaran publikasi ilmiah. Namun, penerapannya harus tetap mengedepankan tanggung jawab akademik dan penghormatan terhadap karya intelektual sebagai fondasi utama dunia penerbitan.
Memperkuat Jejaring dan Inovasi Nasional
Sementara itu, Ketua APPTIMA Dr. Muhammad Aripin menilai keikutsertaan dalam kongres ini menjadi momentum penting bagi penerbit di lingkungan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah untuk memperkuat kerja sama internasional. Tantangan penerbitan akademik saat ini, kata dia, tidak hanya soal peningkatan kualitas naskah, tetapi juga kemampuan membangun kolaborasi lintas negara, memperluas akses publikasi, serta mengembangkan inovasi berbasis teknologi.
Selama berlangsungnya kongres, peserta mengikuti sesi pleno dan diskusi terfokus yang membahas etika penggunaan AI, hak cipta digital, aksesibilitas publikasi, hingga peluang kerja sama bisnis melalui sesi jejaring dagang hak cipta (Rights Trade). Forum ini dihadiri perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Parlemen Eropa, serta penerbit besar dunia seperti Elsevier, Penguin Random House, Hachette, dan organisasi seperti PEN International, serta delegasi dari lima benua.
Partisipasi Indonesia dalam forum ini memiliki nilai strategis untuk meningkatkan daya saing industri penerbitan nasional. Kongres membuka peluang kerja sama penerbitan bersama (co-publishing), pertukaran hak cipta, penerjemahan karya, hingga promosi buku dan riset Indonesia ke pasar dunia.
Prof. Taufiqurokhman berharap hasil diskusi dalam kongres dapat menjadi acuan bagi pengembangan UMJ Press maupun seluruh jaringan penerbit perguruan tinggi di Indonesia. “Sinergi antara perguruan tinggi, asosiasi penerbit, dan mitra internasional akan menjadi modal penting membangun ekosistem penerbitan nasional yang inovatif, adaptif, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kontribusi Indonesia bagi perkembangan penerbitan global,” pungkasnya. (Hn/Red)


















