banner 728x250

Dorong Kemandirian Energi, Pemerintah Genjot Hilirisasi Perkebunan Jadi Bioenergi

banner 120x600
banner 468x60

Jakarta,Wartalintasdesa.web.id – Pemerintah terus mempercepat hilirisasi sektor perkebunan sebagai strategi besar untuk memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mengangkat nilai tambah komoditas dalam negeri. Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan global dan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Subsektor perkebunan kini tidak lagi hanya diposisikan sebagai penghasil bahan mentah, melainkan fondasi penting dalam rantai pasok energi baru terbarukan berbasis sumber daya lokal. Arah kebijakan ini sejalan dengan visi transformasi ekonomi yang diusung Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan pada penguatan industri hilir dan pengurangan impor.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa paradigma pembangunan harus berubah menuju pengolahan yang memberikan nilai tambah tinggi.

“Hasil perkebunan harus naik kelas. Tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk turunan bernilai tinggi, termasuk bioenergi. Ini bagian dari upaya kita memperkuat kemandirian dan kedaulatan energi nasional, sebagaimana arahan Bapak Presiden,” ujar Mentan Amran, Jumat (24/4/2026).

Sejumlah komoditas strategis seperti kelapa sawit, tebu, jagung, dan singkong kini diarahkan menjadi tulang punggung pengembangan bahan bakar nabati, baik untuk biodiesel maupun bioetanol. Pemanfaatan sumber daya dalam negeri dinilai krusial untuk memperkuat bauran energi nasional.

Di sisi hulu, penguatan dilakukan melalui berbagai program, antara lain percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana prasarana, serta pengawasan perizinan dan sertifikasi keberlanjutan seperti ISPO.

Khusus untuk komoditas tebu, pemerintah mendorong percepatan swasembada gula sekaligus pemenuhan kebutuhan bahan baku bioetanol. Upaya ini dilakukan melalui program bongkar ratoon dan perluasan areal tanam hingga 200.000 hektare secara nasional. Selain itu, pembenahan data dan sistem informasi menjadi prioritas untuk perencanaan yang lebih presisi.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, menilai hilirisasi membawa dampak luas bagi perekonomian.

“Hilirisasi perkebunan akan menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat industri berbasis komoditas, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan pekebun. Ini menjadi kunci dalam mendorong transformasi ekonomi nasional,” jelasnya.

Ke depan, pengembangan komoditas tidak hanya difokuskan untuk pangan dan industri konvensional, tetapi juga diarahkan sebagai sumber energi terbarukan yang prospektif.

“Sinergi lintas sektor akan terus diperkuat dari hulu hingga hilir. Tujuannya memastikan kesinambungan pasokan bahan baku serta optimalisasi industri bioenergi, termasuk biodiesel dari sawit dan bioetanol dari tebu,” tambah Ali.

Dengan integrasi penuh dari produksi hingga pemanfaatan, hilirisasi perkebunan diharapkan menjadi fondasi strategis yang mampu memperkuat ketahanan energi dan pangan secara bersamaan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. (Hn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *