Wartalintasdesa.web.id. Lebak – Sekitar 30 persen tanaman padi di wilayah persawahan Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, mengalami gangguan dan berpotensi menurunkan hasil panen akibat serangan hama wereng coklat (Nilaparvata lugens), yang secara lokal dikenal sebagai hama ganjur.
Hama ini merusak tanaman dengan cara menghisap cairan pada batang padi, sehingga mengganggu asupan nutrisi tanaman. Serangan berat dapat menyebabkan tanaman layu, mengering seperti terbakar atau yang dikenal dengan istilah hopperburn, sekaligus menularkan virus penyakit berbahaya bagi tanaman padi.
Pakar pertanian mengingatkan petani untuk mengenali tanda-tanda serangan sejak dini:
– Fase awal: Pertumbuhan tanaman terhambat, menjadi kerdil, dan daun mulai menguning.
– Fase lanjut: Terdapat banyak serangga kecil di bagian pangkal batang; daun dan batang berubah coklat, mengering, hingga akhirnya mati.
– Dampak parah: Biji padi menjadi hampa, bahkan dapat menyebabkan puso atau gagal panen total.
Kondisi hopperburn terjadi ketika populasi wereng di pangkal batang sudah sangat tinggi dan menghisap cairan tanaman secara masif, sehingga seluruh rumpun padi bisa mengering dalam waktu singkat.
Untuk menekan penyebaran hama, Dinas Pertanian menyarankan langkah-langkah berikut:
1. Penggunaan pestisida secara bijak: Gunakan jenis yang terdaftar dan sesuai anjuran instansi pertanian, aplikasikan pada pagi hari dengan menyasar langsung bagian pangkal batang. Hindari pemakaian berlebihan agar tidak memicu resistensi hama.
2. Tanam serentak: Sesuaikan jadwal tanam secara bersamaan antar petani untuk memutus siklus perpindahan hama dari lahan yang sudah dipanen ke tanaman muda.
3. Pemupukan berimbang: Jangan gunakan pupuk nitrogen seperti urea secara berlebihan, karena kondisi ini justru mempercepat perkembangbiakan wereng coklat.
4. Pembersihan lahan: Setelah masa panen, kelola sisa jerami dengan cara yang tepat untuk memutus rantai penyebaran virus dan telur hama.
Koordinator Wilayah Pertanian Kecamatan Malingping, Nandar Nahrudin, membenarkan serangan ini saat dikonfirmasi pada Kamis (2/7/2026.
“Serangan wereng coklat ini menyebar karena hama ini bermigrasi dari satu lahan ke lahan lain. Pencegahan sebaiknya dimulai sejak masa persemaian, baik dengan cara kimiawi yang terukur maupun pengelolaan lingkungan. Setelah panen, sisa tanaman harus dikelola dengan baik agar virus tidak tertinggal,” ujarnya.
Dari total luas lahan persawahan di Kecamatan Malingping yang mencapai 2.500 hektare, sekitar 30 persen di antaranya saat ini terdampak serangan.
“Di wilayah kami terdapat 85 Kelompok Tani dan 14 Gabungan Kelompok Tani. Kami mengimbau seluruh petani yang menemukan gejala serangan atau mengalami kerugian, untuk segera berkonsultasi ke kantor Badan Penyuluhan Pertanian Kecamatan agar mendapatkan bantuan teknis dan penanganan yang tepat,” tambahnya. (Hn/Red)


















